Skip to main content

Kita, ulang tahunmu, dan Ibu.

Hi. Besok hari pentingmu kan? Bukan. Bukan pernikahan yang ku bahas, tapi hari ulang tahunmu. Awas saja jika kau berani berencana menikah tanpa memberitahuku!

Jujur. Sampai sekarang aku tidak tau harus seperti apa, karena rasa bersalah masih menghantuiku hingga detik ini. Aku masih merasa semua itu salahku. Karena pasti secara tidak langsung, setiap mendekati ulang tahunmu, kamu juga pasti akan mengingat kenangan menyedihkan itu. Iya, aku yakin kamu pasti tau apa yang ku maksud. Sudah ku putuskan, malam ini aku akan meminta maaf padamu tentang hal yang tidak pernah berani ku bahas, tentang ibu.

Oh iya, dua hari lalu aku bilang bahwa aku akan menelponmu, kan? Aku ingat saat aku bilang akan menelponmu, kamu malah bingung dan bertanya “19?”. Dan aku mengulanginya lagi, “iya 19” kataku lantang. Lalu tiba-tiba saja kamu berseru “oh 19!” Dan aku hanya tertawa sambil menjelaskan kalau maksudku berbeda dengan yang sedang kamu fikirkan saat itu.

Sampai saat ini, setiap kali “kebetulan” aku menghubungimu dan relate dengan itu, kamu selalu bergumam kecil “19”. Padahal kenyataannya, tidak hanya saat itu aku menghubungimu, bahkan jika bisa, aku sangat ingin menghubungimu setiap waktu. Tapi dengan lingkaran kita sekarang, aku harus bisa menahannya. Yaaa walaupun beberapa kali ku dengar kamu protes dengan nada nyinyir “kamu hanya sedang kesepian. Kamu tidak benar-benar membutuhkanku, dan rasamu akan segera pudar.” Entah sudah seberapa sering aku mendengarnya darimu, tapi buktinya sampai saat ini rasaku masih tetap sama padamu. Ya, benar. Seperti yang tadi ku tulis dalam cuitanku. “Maaf. Tapi sungguh, aku masih tetap jatuh cinta padamu. Dan telah berulang kali sejak saat itu. 191116.”

Comments